Loading...

Gerson, seorang disabiltas : “TLM memberikan pekerjaan untuk saya"

20 November 2022

Gerson Natbais, 40 tahun (PWD), menikah dan memiliki dua anak, yang pertama Perempuan berusia sebelas tahun, sekarang kelas tiga sekolah dasar dan yang kedua laki-laki berusia 4 tahun.

foto5

Gerson adalah orang multitalent yang tidak pernah menganggap kebutaannya sebagai penghalang untuk bekerja setiap hari demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sebelum bergabung sebagai klien Yayasan TLM, Gerson pernah bekerja di MISI Susteran - Kupang selama 8 tahun sebagai terapis, ia kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dari MISI Susteran dan mencoba bekerja secara mandiri dengan menyediakan layanan pijat door to door sebagai pekerjaan utamanya. Skill tersebut membuatnya bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp 200.000 hingga 300.000 per hari.

foto5

Gerson juga memiliki keterampilan bermain keyboard yang ia pelajari secara otodidak, dengan keterampilan ini ia terkadang dituntut untuk bermain dan bernyanyi di pesta pernikahan atau pesta keluarga. Sebelum pandemi covid-19, penghasilan yang bisa ia peroleh dari bermain keyboard sebesar Rp 150.000 hingga Rp 300.000.

Kendati demikian, Gerson merasa perlu memiliki penghasilan tetap yang bisa menghidupi kebutuhan keluarganya.

Inilah sebabnya mengapa ia memutuskan untuk bergabung dengan program Disabilitas Yayasan TLM. Ia tertarik untuk terlibat dalam pertemuan PWD yang diadakan oleh Yayasan TLM. Yayasan TLM juga melakukan pertemuan FGD yang membahas tentang keberlanjutan, kewirausahaan, kepercayaan diri, bagaimana menghadapi persaingan dalam bisnis dan membuat kemoceng. Selain itu, Gerson bersama PWD lainnya juga mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan pijat yang lakukan oleh Yayasan HITBIA dan difasilitasi oleh Yayasan TLM. Pelatihan pijat ini bertujuan untuk mempersiapkan mereka bekerja di Rumah Sehat TLM.

foto5

Setelah bergabung dengan program FGD tersebut, Gerson mengajukan permohonan pinjaman PWD yang memberinya modal untuk memulai bisnisnya sendiri. Saat ini ia sudah dalam pinjaman putaran ke-3 dengan nilai Rp 3.000.000. Pinjaman ini digunakan untuk bahan kemoceng dan stok jualan untuk usaha kiosnya seperti kopi, gula, mie instan, makanan ringan, beras, dll. bisnis ini sangat membantu keluarga Gerson dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan pendidikan anaknya. Usaha ini bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp 50.000 hingga rupiah. 100.000 per sekali tampil.

Selain memiliki bisnis kios baru yang diurus istrinya, Gerson dan 19 teman PWD lainnya juga bekerja sebagai terapis di Rumah Sehat Yayasan TLM. Ia bersyukur atas kehadiran Rumah sehat; dia memiliki tujuan di mana dia harus bekerja. Ia bekerja di rumah sehat TLM setiap hari Senin, Rabu dan Jumat.

“Saya sangat senang dan bersyukur, Yayasan TLM sediakan tempat usaha dan lapangan pekerjaan bagi kami orang disabilitas, mana ada orang mau pekerjakan kami.

foto1 foto4

Terimakasih untuk Yayasan TLM” Ungkap Gerson. Karena Gerson dan keluarganya tinggal di rumah kontrakan selama lebih dari 10 tahun, dia sekarang memanfaatkan penghasilannya untuk membangun rumah keluarganya. Rumah itu sekarang sedang dalam proses pembangunan. Ia berharap pandemi ini segera hilang sehingga bisa bekerja kembali normal untuk mencari uang guna menghabisi rumah keluarganya.

foto1